Mengenal Keindahan Kampung Madras Medan Kampung Keling

Posted on
Mengenal Keindahan Kampung Madras Medan Kampung Keling

Medan itu tak sama dengan Batak mulu loh! Medan itu multi etnis dan suku yang mendiaminya. Lumrah saja sebagai satu diantara ibukota Propinsi jadi Medan jadi daya tarik sendiri. Memanglah benar bila suku Batak paling khas lantaran logatnya tetapi bukanlah bermakna Medan itu Batak terus-terusan walaupun ada kata Horas Bah, ini Medan Bung! Dari banyak suku yang menempati Medan, ada satu suku yang menarik yakni suku Keturunan India yang ada di Kampung Matras atau kerap dimaksud Kampung Keling. Kampung Madras jadi satu diantara tempat menarik untuk dikunjungi di Medan loh lantaran memanglah gampang temukan orang India di Kampung Keling seolah kita ada di India. Sekurang-kurangnya Medan rasa India! Tempat kampung Keling dekat dengan Sun Plaza serta banyak yang dapat kita kerjakan di kampung India di Medan.

Paling tak ada 3 hal yang dapat dikerjakan di Kampung Madras/Kampung Keling Medan

1. Wisata Kuliner Medan 

Ingin rasakan masakan India di Medan, dapat! Datang saja ke Kampung Madras saat malam hari di Jl Pagurungan bakal banyak jajanan ala India dari mulai Martabak India sampai masakan India yang lain. Bahkan juga bila siang hari banyak pula restaurant India yang disepanjang Kampung Keling. Namun sayangnya saya yang bahkan juga pernah tinggal di Medan 5 th. belum pernah icip makanan ala Kampung Keling. Duh ngences banget dah! Paling akhir ke Medan juga belum kesampain lantaran hujan yang membuatku cuma stuck di hotel saja. Tetapi bila balik ke Medan saya ingin cobalah Martabak ala India deh di Medan lagi!

2. Wisata Kuil 

Sekurang-kurangnya ada dua kuil menarik di Kampung Madras/Kampung Keling Medan. Letaknya juga bersebelahan, yang satu kuil untuk Hindu yang sampingnya untuk Sigh. Untuk Candi Hindu di Kampung Madras buka jam 4 sore. Apabila bertandang berharap kondusif lantaran memanglah bukan obyek wisata.

3. Mencari Lagu/Film Bollywood 

Paling tak ada satu dua toko yang jual film serta lagu India di Kampung Keling. Orang penjual juga keturunan India lagi jadi cocok musiknya diputar jadi seolah di India. India rasa Medan hehhe

Nah bila bertandang ke Medan janganlah lupa berkunjung ke Kampung Keling untuk lihat little India ala Medan
Apabila tiap-tiap kota mesti mempunyai satu landmark, jadi tidak diragukan lagi, lokasi ini mungkin saja jadi landmark kota Medan. Kampung Keling. Banyak histori kota Medan berlangsung disini. Ia jadi serta bukti peradaban yang pernah terbangun pada masanya. Medan memanglah diwarnai indahnya budaya beragam etnis yang menempatinya. Bukan sekedar etnis asli Indonesia, namun juga beragam etnis pendatang seperti India, Tionghoa, serta Arab yang sudah bermukim di Indonesia mulai sejak berabad silam yang sudah jadi sisi tidak terpisahkan dengan kota ini.

Kampung Keling yaitu contoh konkret keindahan itu. Keliling Kampung Keling Bila Anda tengah liburan di kota Medan, Anda butuh tahu mengenai tempat menarik ini. Sekilas lalupun semestinya Anda sudah mengetahui, ada narasi yang menginginkan di sampaikan atmosfernya, bangunan-bangunannya serta keseluruhnya utuh lokasi ini pada Anda. Apabila Anda yaitu warga kota Medan yang sudah punya kebiasaan sampai jadi tidak ambillah pusing dengan pesan itu, berhentilah sesaat. Cobalah nikmati serta dengarkan pesan yang menginginkan dikatakannya. Pesan yang mungkin saja bakal Anda rindukan saat tengah ada di daerah lain. Berikut yang dimaksud Rika sebagai ingatan kolektif serta ruh satu masa lalu.

Bersiaplah untuk berkeliling kota Medan di seputaran lokasi Zainul Arifin ini. Sebelumnya kemerdekaan Indonesia pada th. 1945, rasa India di lokasi ini tercermin dari beberapa nama jalan yang hingga saat ini sebagian salah satunya masihlah dipakai. Dulu nama Jalan Kalkuta, Jalan Bombay, jalan Nagapatam, Jalan Ceylon, Jalan Madras dapat diketemukan di seputaran lokasi ini. Saat ini beberapa nama itu telah bertukar sebagian. Namun beberapa nama seperti Kelurahan Madras, Jalan PJ Nehru, Muara Takus, Candi Biara, Gajah Mada, Maja Pahit, Taruma, Candi Prambanan, Candi Borobudur, Majapahit yang semua masihlah memiliki nuansa Hindu. Di Kampung Keling ini beberapa puluh bangunan tua khas jaman kolonial Belanda masihlah dapat diketemukan disini. Bangunan-bangunan ini yaitu bangunan bersejarah peninggalan saat keemasan tembakau deli.

Di lokasi berikut dulu orang-orang India tinggal serta bermukim. Saat ini tidak banyak memanglah lagi warga keturunan India yang tinggal disana. Lantaran desakan ekonomi grup orang-orang inipun banyak yang “tergusur” ke pinggir. Saat ini populasi paling besar mereka ada di Kampung Angrung serta Kampung Pendam, di sekitaran lokasi Jalan Monginsidi, Medan. Tetapi apabila Anda jalan kaki di lokasi ini Anda masihlah dapat temukan beberapa toko milik etnis India yang berlokasi di daerah yang bikin jalan Zainul Arifin, jalan paling utama daerah ini tampak seperti satu jalan di India sendiri. Di lokasi ini kita dapat temukan Toko Bombay yang jual bermacam sari India, Toko Kasturi yang jual beragam keperluan bahan makanan India, perlengkapan makan, kecantikan, sembahyang, serta sharing keperluan yang lain. Ada pula restoran-restoran yang menghidangkan makanan khas India seperti Restoran Sinar Baru, De Deli Dar Bar, serta Restoran Bollywood. Ada pula beberapa toko yang jual makanan kecil serta manisan khas India, laundry serta penjahit India, dan yang paling menguasai, warung kecil penjual martabak India.

Bangunan-bangunan yang begitu kental nuansa Indianya yaitu kuil-kuil yang ada di Kampung Keling. Kuil Shri Mariaman serta Kuil Subramaniem yaitu 2 kuil paling besar yang ada di lokasi ini. Kuil Shri Mariaman yaitu kuil India yang di bangun pada th. 1881. Bangunan megahnya dihiasi beberapa puluh patung dewa khas India yang konon beritanya dihadirkan segera dari India. Diluar itu dulu ada Sekolah Khalsa yang pada masanya yaitu hanya satu sekolah yang menggunkan bhs Inggris sebagai bhs pengantarnya. Satu diantara bangunan menarik lain ditempat ini yaitu ada masjid Ghaudiyah. Kehadiran bangunan ini jadi satu bukti lagi kerukunan keberagaman orang-orangnya. Masjid ini terdapat di jalan Zainul Arifin. Di bangun oleh perkumpulan etnis India Selatan yang bermacam Islam, South Indian Muslims Foundation pada th. 1887. Oleh Sultan Deli yayasan ini di beri dua tempat untuk bangun masjid. Di. Jalan Kejaksaan untuk di bangun masjid, serta di jalan Zainul Arifin untuk masjid serta perkuburan.

Pada jaman dulu, masjid Ghaudiyah begitu populer dengan arsitektur bergaya India yang kental. Cuma dari gerbangnya saja, beberapa orang bakal segera mengira kalau itu yaitu masjid bergaya India. Dengan halaman yang luas serta dua kolam untuk mengambil air untuk sembahyang, mesjid ini terlihat begitu megah. Sayangnya pada th. 1962, gerbang serta kolamnya mesti diruntuhkan untuk perluasan jalan Zainul Arifin. Saat ini letak masjid ini tersembunyi dibalik gedung-gedung yang menutupinya. Kampung Keling atau Kampung Madras? Apabila seseorang ibu memohon ingindara beca bermotor, satu diantara angkutan umum di kota Medan, untuk mengantarkannya ke Kampung Keling, tanpa ada tending aling-aling, beca bermotor itu bakal meluncur ke satu lokasi di jantung kota Medan. Kendaraan bakal selekasnya diarahkan ke daerah sekitaran 800 mtr. dari jalan paling utama Gajah Mada. Tidak memerlukan pertanyaan “Di daerah manakah Kampung Keling itu? ” Seperti tersebut Narain Sami, Ketua perkumpulan Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Sumatera Utara mengambarkan begitu menempelnya nama perkampungan itu dalam kesadaran kolektif orang-orang kota Medan.

Kampung Keling ini yaitu jantung kebudayaan India di Medan. Warga kota Medan mengetahui kampung ini dengan nama Kampung Keling meskipun kecamatannya bernama Madras. Sepanjang sebagian dekade, Kampung Keling di kenal sebagai pemukiman orang-orang etnis India Tamil di Medan. Mereka berkumpul di daerah sekitaran jalan Zainul Arifin. Walau pemerintah kota Medan sudah resmi merubah nama Kampung ini jadi Kampung Madras – lantaran keling berkonotasi dengan kulit gelap serta menyebabkan keberatan beberapa orang-orang India setempat- areal seluas sekitaran 10 hektar ini tetaplah di kenal sebagai Kampung Keling.

Datangnya India ke Medan Bangsa India, terlebih Tamil datang ke Sumatera Utara pada akhir era ke-19 semasa penjajahan Belanda. Mereka mengadu nasib dengan jadi kuli perkebunan. Dalam catatan Tubuh WArisan Sumatera (BWS), rombongan pertama orang Tamil yang datang ke Medan sejumlah 25 pada th. 1873. Mereka dipekerjakan oleh Nienhuys, seseorang Belanda entrepreneur perkebunan tembakau, yang nanti di kenal sebagai tembakau Deli. Tembakau yang bikin tanah Deli jadi termasyur didunia internasional. Sampai selanjutnya di kenal sebagi “Tanah Sejuta Dollar” Kemudian, makin banyak saja beberapa buruh serta tenaga-tenaga kerja yang dihadirkan dari India untuk bekerja di Tanah Deli tak tahu sebagai buruh perkebunan, supir, penjaga malam, sais kereta lembu, serta bangun jalan dan waduk. “Itu lantaran golongan Tamil populer sebagai pekerja keras yang taat pada atasannya, ” kata Narain Sami. Sampai akhir 1975 jumlah kuli Jawa serta Tamil meraih seribu orang. Terkecuali beberapa kuli kontrak yang datang lewat Penang atau Singapura mereka datang juga lewat bangsa India lain. Seperti dari Punjab, India Utara yang biasanya berpedoman agama Sikh, Bombay, serta bangsa Chettyar yang pandai melakukan bisnis. Mereka tak bekerja sebagai kuli di perkebunan, tetapi buka usaha sendiri serta bekerja di bidang lain.

Waktu Belanda buka cabang De Jawasche Bank di Medan, beberapa Sikh dipekerjakan sebagai penjaga pada th. 1879. Lihat kondisi serta peluang ekonomi di kota Medan, sebagian jadi buka usaha peternakan lembu lantaran meningkatnya keinginan supply susu dari Belanda. Banyak yang sukses di usaha ini sampai saat ini juga orang-orang keturunan India populer sebagai produsen susu sapi murni. Pada akhir th. 1930, penganut Sikh di Medan meraih 5 ribu orang. Terdapat beberapa arti yang dipakai untuk memanggil warga keturunan India ini. Ada yang memanggil dengan arti keling atau chulia yang umumnya dipakai untuk memanggil keturunan Tamil. Diluar itu ada pula arti Benggali untuk menyebutkan mereka yang sebenarnya penganut Sikh. Diluar itu, orang-orang umum menggunakan arti orang bombai.

Sekarang ini, keturunan India yang ada di Medan tidaklah mereka yang datang segera dari India. Mereka yaitu generasi ketiga atau ke empat dari pendatang awal yang umumnya menampik dikatakan sebagai bangsa India lantaran memanglah telah lahir di Indonesia serta jadi warga Negara Indonesia. Seperti Kasturi. “Kebudayaan saya memanglah india, namun saya orang Indonesia, ” tuturnya mantap. Landmark Kota Medan apabila tiap-tiap kota mesti mempunyai satu landmark, jadi tidak diragukan lagi, lokasi ini mungkin saja jadi landmark kota Medan.

Kampung Keling banyak histori kota Medan berlangsung disini. Ia jadi serta bukti peradaban yang pernah terbangun pada masanya. Kampung Keling menurut Rika Susanto, artsitek serta pengurus BWS yaitu konstruksi bangunan dengan susunan serta batas-batas kota yang begitu terang. Batas-batas wilayahnya begitu terdeliniasi secara teratur. Di satu sisinya jalan Zainul Arifin serta Jalan Diponegoro dibatasi oleh bangunan-bangunan. Sesaat di segi yang lain jalan S. Parman serta Gajah Mada di tandai oleh batas alam, Sungai Deli. “Blok-blok kota yang ada di perkampungan ini dapat begitu menarik. Khas Inggris seperti juga fifth avenue di Inggris. Orang tidak bakal dapat nyasar di Kampung Keling, ” kata Rika. Tata kota yang menarik ini menurut Rika bikin Kampung Keling pas jadikan sebagai landmark kota Medan. Sebagai obyek wisata yang ramah untuk pejalan kaki. Terkecuali mempunyai nilai histori yang panjang, bangunan-bangunan yang unik, ada banyak beberapa hal menarik lain yang ada di Kampung Keling. Histori peradaban serta perubahan kota Medan.

Wisata tempat lain :
Mengenal Keindahan Kampung Madras Medan Kampung Keling

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.